Laporan Jurnalistik Kuliah Tamu: Penulisan Sejarah yang Tidak Dapat Ditulis: Pendekatan Baru untuk Memahami Zaman Pendudukan Jepang



  

          Pada tanggal 11 Oktober 2021, Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga mengadakan sebuah acara kuliah tamu dengan judul “Penulisan Sejarah yang Tidak Dapat Ditulis: Pendekatan Baru untuk Memahami Zaman Pendudukan Jepang”. Kuliah umum ini disampaikan oleh Prof. William Bradley Horton dari Akita University Japan. Beliau merupakan seorang Adjunct Profesor Prodi Ilmu Sejarah FIB Unair. Beliau juga seorang yang pernah tinggal di Indonesia yang tepatnya di Yogyakarta. Sebelum memasuki materi, sambutan disampaikan terlebih dahulu oleh Purnawan Basundoro dan Lina Puryanti dengan dimoderatori oleh Moordiati.

        Adapun pembahasan utama pada kuliah tamu lebih berfokus pada sejarah Indonesia era penjajahan Jepang saat Perang Dunia II. Prof. William ini sebenarnya lebih ahli dalam kajian-kajian sosial khususnya pada zaman kolonial. Selain itu, beliau juga tertarik untuk mempelajari sejarah Perang Dunia II dengan perspektif sosial tentunya. Hal itu dapat diketahui pada disertasinya dengan judul “History Unhinged: World War II and the Reshaping of Indonesian History”. Saat awal memasuki sesi penyampaian materi, beliau mengatakan bahwa beliau tertarik dengan penulis-penulis terkenal yang membahas Perang Dunia II.

"Kotak Hitam" Sebagai Ilustrasi Sejarah Indonesia Era Penjajahan Jepang

        Salah satu hal yang paling menarik pada kuliah tamu adalah ketika Prof. William menunjukkan bahwa sejarah penjajahan Jepang di Indonesia selama 3 ½ tahun adalah “Hitam”. Hitam disini bisa berarti dua hal, yaitu tidak ada peristiwa sejarah Perang Dunia II apapun di Indonesia atau peristiwa sejarah tersebut itu dihapus/tidak ditulis/dibakar oleh tentara Jepang. Penulisan sejarah Indonesia telah ada sejak zaman dahulu dan mulai berhenti sampai pada tahun 1942 ketika Belanda menyerah kepada Jepang saat berada di Indonesia (Hindia Belanda). Pada tahun 1945 atau tepatnya pasca kemerdekaan Indonesia, penulisan sejarah Indonesia mulai muncul kembali, bahkan sampai saat ini. Tentu, hal ini menjadi sebuah pertanyaan mengapa pada tahun setelah 1942 sampai 1945 (sebelum kemerdekaan) itu sejarah kependudukan Jepang di Indonesia tidak begitu lengkap?

        Prof. William menjelaskan bahwa sejarah penjajahan Jepang di Indonesia itu hanya sebatas gambaran-gambaran kasar belaka. Salah satunya adalah Romusha (kerja paksa era Jepang di Indonesia) dengan tampilan foto mengenai kondisi masyarakat Indonesia saat melakukan kerja paksa sampai mati, pengawasan tentara Jepang kepadanya, dan lain-lain. Itupun tidak terlalu  detail menjelaskan peristiwanya. Meskipun demikian, terdapat beberapa penulisan sejarah yang menarik menurut Prof. William, yaitu sejarah perpindahan tentara Jepang ke Indonesia dan persiapan kemerdekaan Indonesia. Itupun juga tidak terlalu detail.

        Ada juga foto wanita Jepang dan Indonesia yang bersamaan dengan pose menudukkan badan seperti pada kebiasaan Jepang. Wanita Jepang tersebut merupakan seseorang yang bekerja di Angkatan Laut di Jakarta. Foto tersebut didapatkan sebuah majalah pada saat itu. Ada juga foto kerabat dari seorang mahasiswa yang kerabatnya ini pernah berfoto bersama dengan orang Indonesia. Sayangnya, dua foto tersebut tidak diceritakan pada sejarah Indonesia pada umumnya. Prof. William juga menayangkan sebuah lagu propaganda Jepang yang dilakukan oleh pelajar di Jakarta pada era penjajahan Jepang di Indonesia. 

Berikut merupakan tautannya: https://youtu.be/Fh10-slPGKY

Prof. William Saat Menayangkan Lagu Propaganda Jepang Saat di Indonesia

Menurut beliau, lagu ini seharusnya dimasukkan pada sejarah Indonesia. Namun, tentu cara memasukkannya adalah perkara yang tidak mudah.

        Tentunya, zaman periode Jepang di Indonesia ini sangat sedikit terhadap sumber-sumber sejarah. Beliau mengatakan bahwa “kotak hitam” selama 3½ tahun tersebut  pasti ada sesuatu yang dapat menghambatnya sehingga sejarah Indonesia sangat sedikit dibahas saat era Jepang. Prof. William percaya bahwa “kotak hitam” itu tercipta akibat beberapa alasan, bukan karena sedikitnya minat sejarawan pada saat itu.

        Alasan yang pertama adalah permasalahan bahasa. Pada saat itu, tidak semua orang Indonesia dapat mengetahui bahasa Jepang secepat itu selama 3½ tahun sehingga menimbulkan minimnya sumber penulisan sejarah. Hanya sedikit saja sumber sejarah yang tersedia pada saat itu. Contohnya seperti pada lagu propaganda Jepang tadi dan buku-buku yang ditulis oleh orang Jepang saat tinggal di Indonesia era penjajahan.

        Selain itu, ada alasan lain yang cukup menarik, yaitu sebuah mitos yang menyatakan bahwa sumber-sumber sejarah pada saat itu dibakar oleh Jepang ketika mencapai kekalahan Perang Dunia II karena Jepang takut jika tentara-tentaranya itu akan diadili. Hal itu adalah hal yang umum, tetapi masih diragukan alasan ini. Meskipun demikian, praktik tersebut telah dilakukan oleh banyak negara lain seperti Amerika saat berada di Perang Vietnam. Selain itu, ketika Belanda ingin kembali ke Indonesia, Belanda melontarkan slogan “Made in Japan”, yaitu slogan yang dilemparkan ke pemerintah Indonesia oleh Belanda sebagai bentuk penjajahan kembali. Hal ini membuat orang-orang Indonesia sendiri yang membakar sumber sejarah pada saat itu sebagai bentuk jika orang Indonesia tidak memiliki hubungan dengan orang Jepang.

        Adapun alasan lain sumber sejarah sangat sedikit ditemukan di arsip Indonesia adalah orang Belanda mengambil sumber tersebut. Hal ini dapat dilihat pada negara-negara lain yang sangat banyak ditemukan dokumen-dokumen sejarah pendudukan Jepang di Indonesia.

        Prof. William juga memberikan contoh suatu tokoh jurnalistik pada saat zaman kolonial. Abdul Karim merupakan seorang jurnalistik, pegawai negeri, dan aktivis. Dia pernah masuk ke dalam PKI sampai menjadi komisaris di Sumatera Utara. Sering keluar masuk penjara dan pernah dibuang di Boven Digul (Papua) bersama anaknya. Setelah kembali ke daerahnya, dia mulai banyak menulis tentang pengalaman hidupnya berupa karya sastra seperti pengalamannya di Boven Digul. Pada saat memasuki Jepang, dia lebih sering dibebaskan daripada saat zaman Belanda sehingga ada kemungkinan dia menulis seputar kondisi Indonesia saat penjajahan Jepang. Berdasarkan dari kisah tersebut, maka sejarah Indonesia pada saat penjajahan Jepang dapat dituliskan berdasarkan dari pengalaman hidup seorang tokoh.

        Selain itu, wanita Jepang juga memiliki peran dalam menghiasi sejarah Indonesia era penjajahan Jepang. Kedatangan wanita Jepang ke Indonesia pada saat itu tentu disertai oleh alasannya, seperti menjadi seorang perawat di rumah sakit, sekretaris, pengarang seperti Hayashi Fumiko yang pernah tinggal di Indonesia selama beberapa minggu, peneliti tentang kebudayaan, dan sebagainya.

        Ada juga suatu topik yang dibahas secara khusus dari pembahasan sejarah, yaitu peran wanita penghibur. Wanita penghibur ini sangat banyak ditemui era penjajahan Jepang. Di belahan daerah jajahan lain pun juga dapat dijumpai. Beberapa waktu kemudian, topik tersebut sudah diatur pada zaman Tokugama. Wanita penghibur ini sebenarnya dapat dijadikan sumber sejarah. Namun, risikonya terlalu besar yang dapat berhujung rusaknya hubungan pernikahan, traumatis, hingga politik.

        Ketika Perang Dunia II telah berakhir yang tepatnya saat Indonesia telah merdeka, data-data berupa wawancara guna sumber sejarah sulit untuk didapatkan yang kemudian berujung pada perubahan-perubahan yang sangat kontras. Hal tersebut disebabkan adanya desakan dan tekanan politik. Contohnya, dapat dilihat pada dua karyanya Pramudya Ananta Toer yang memiliki perubahan secara signifikan sehingga dapat memengaruhi kehidupan orang dan Historiografi Indonesia. 

            Setelah Prof. William menyampaikan materinya selama kurang lebih 50 menit, sesi tanya jawab mulai dilaksanakan dengan dipandu oleh Moordiati selaku moderatornya. Adapun jenis pertanyaannya banyak yang menanyakan mengenai sumber sejarah era pendudukan Jepang terkait topik yang ingin mereka telusuri. Namun, jawaban yang disampaikan oleh Prof. William cukup simple, yaitu sangat sulit menemukan sumber sejarah dengan topik sespesifik itu. Setelah sesi tanya jawab berakhir, Moordiati menutup acara dengan memberikan kalimat penutup, yaitu "Menulis bukan karena perasaan takut untuk menulis periode Jepang karena periode Jepang adalah periode yang sangat menarik". Dengan demikian, kuliah tamu selesai sekitar pada pukul 17:00 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Historiografi Kolonial: Sejarah Indonesia dari Perspektif Belandasentris